Perbedaan Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran
Jumlah ayat didalam Al-qur’an ada 6263 ayat, terdiri dari 114 surat, 30 juz. Surat awal Al-fatihah dan terakhir surat An-nas. Al-qur’an wahyu dari Allah swt bersifat Mutawatir, karena lafaz dan makna dari Allah swt. Wahyu pertama kali Q.S. Al-alaq; 1-5, di gua Hira. Ayat terakhir diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, diriwayatkan surat Al-maidah ayat 3. Diturunkan pada waktu sesudah Ashar, yaitu pada hari jum’at, dipadang arafah pada musim haji terakhir.
Sebagian orang menganggap Lailatul Qadar dan Nuzulul qur’an itu sama. Tapi apakah kalian tau, apa perbedaan dari keduanya?
Lailatul Qadar adalah peristiwa turunya Al-qur'an yang lengkap dan sempurna, hanya sebatas dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah dalam satu malam yaitu malam Ramadhan. Sementara Nuzulul Qur'an adalah setiap peristiwa turunya ayat-ayat Al-Qur'an, dari semua tahapan tadi, yaitu dari Allah SWT. Jadi, Lailatul Qadar diturunkannya Al-quran secara utuh dari Lauhul Mahfudz menuju Baitul Izzah. sedangkan, Nuzulul Quran adalah proses diturunkannya Alquran secara bertahap.
Al-qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi, semakin maju ilmu pengetahuan akan semakin tampak validasi kemukjizatannya. Allah swt menurunkan kepada nabi Muhammad ﷺ, untuk umatnya yaitu manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada sahabatnya sebagai penduduk asli Arab, yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ.
Al-bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa ketika turun ayat Q.S. Al-an’am ayat 82 Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah yang mendapat rasa aman dan mereka mendapatkan petunjuk (hidayah).”
Ketika wahyu turun melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah ﷺ bisa melalui bertemu lansung dengan berubah menjadi sosok seorang laki-laki, melalui mimpi, atau berbunyi lonceng. Para sahabat menulisnya bisa melalui media daun, kulit binatang, pelepah kurma, tulang, dll secara terpisah-pisah.
Sekalipun Rasulullah ﷺ pernah mengizinkan Sebagian sahabatnya setelah itu menulis hadits. Agar tidak tercampur baur antara wahyu Al-qur’an dan hadist. Sesungguhnya yang berkaitan dengan Al-qur’an masih tetap bersandar pada Riwayat, melalui talqin. Demikianlah yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ, masa khalifah Abu Bakar dan Umar ra.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, tulisan Al-qur'an dikumpulkan kepada Hafsah, istri nabi, anak Umar bin Khattab. Pada masa Umar bin Khattab. Pada masa Abu Bakar, saran mengumpulkan Al-qur’an sudah diusulkan. Sebab banyak para sahabat penghafal Al-qur’an yang berguguran disebabkan perang Yamamah, ini yang ditakutkan jika Al-qur’an tidak disegerakan untuk disatukan menjadi kitab akan seperti kitab-kitab sebelumnya.
Lalu pada masa khalifah Utsman bin Affan ra, sesuai dengan tuntutan kondisi membuat terobosan ijtihad mulia, yaitu menyatukan kaum muslimin dengan pedoman satu mushaf yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Selanjutnya mushaf tersebut dikirim ke berbagai negeri saat itu. Adapun tulisan huruf-hurufnya disebut sebagai rasm utsmani, yang dikaitkan dengan nama khalifah Ustman. Langkah ini adalah awal munculnya penulisan rasm Al-qur’an.
Kemudian khalifah Ali ra menyuruh Abul Aswad Ad-Duali untuk menggagas kaidah nahwu, demi menjaga adanya kekeliruan dalam pengucapan dan untuk lebih memantapkan bagi pembaca Al-qur’an. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu I’rab Al-qur’an. Para sahabat pun meneruskan tradisi memahami makna-makna Al-qur’an dan tafsirnya sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Baik kemampuan yang berbeda dalam memahami, maupun intensitas dalam kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ, selanjutnya dalam kondisi demikian murid-murid para sahabat dari kalangan tabi’in mengambil ilmu dari mereka.
Rasulullah ﷺ adalah kaum ummi, yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Hikmah yang tersembunyi adalah, agar tidak ada tuduhan bahwa Al-quran adalah karangan Rasulullah ﷺ, melainkan wahyu semata. Kenapa diturunkan di Makkah, bukan di romawi, Persia, cina, dll. Karena di Makkah belum ada peradaban. Supaya tidak susah dibentuk menjadi sebuah peradaban Islam. Dan terpilihnya kaum Quraisy yang menempati daerah Mekkah, karena sifat dan wataknya menjunjung tinggi nilai persaudaraan (tolong menolong). Masyarakat Quraisy adalah kaum yang cerdas, mereka melakukan strategi perdagangan ke musim dingin dan musim panas, pada daerah Syam dan Yaman.
Kenapa Al-qur’an diturunkan secara bertahap dari malaikat Jibril ke Rasulullah ﷺ, tidak seperti peristiwa lailatul Qadar yang diturunkan sekaligus langsung seperti dari lauhul mahfuz ke Baitul Izzah?
Jika kitab-kitab Rasul sebelum nabi Muhammad diturunkan langsung, berbeda dengan Al-qur’an, diturunkan secara bertahap. Agar umat nabi Muhammad dapat mengingat dengan lama peristiwa-peristiwa yang ada di dalam Al-qur’an. Sehingga Al-qur’an terjaga kemurniannya lewat para penghafal Al-qur’an, tidak seperti umat nabi sebelumnya, yang akhirnya diubah semau mereka.
Tepat hari ini 17 Ramadhan adalah peristiwa Nuzulul Qur’an, mari bersama kita dekatkan diri pada Allah melalui AlQur’an, kita raih pahala sebanyak mungkin. Jangan lupa untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama dengan klik “Wakaf Sekarang”.
Penulis : Husnul Khulqi
Komentar